Soteriologi Salib

Soteriologi Salib:  jalan keselamatan yang ...?


Menurut soteriologi salib; penderitaan, jalan sengsara (via dolorosa) dan kematian Yesus Kristus secara mengerikan, sebagai manusia terkutuk (yakni di kayu salib) merupakan jalan keselamatan, merupakan jalan bebas hambatan menuju Nirwana, jalan menuju Surga. Bahkan orang Kristen sedunia membanggakan soteriologi salib ini sebagai satu-satunya jalan keselamatan yang paling menjamin manusia. Manusia tidak perlu melakukan tindakan apapun untuk keselamatan diri mereka karena Allah telah menyediakan sendiri jalannya, Allah telah mengorbankan diri-Nya melalui kematian tragis Yesus Kristus.

Para pewarta Kristen secara gencar memberitakan bahwa soteriologi salib ini berbeda dari soteriologi Islam, yang mengharuskan manusia melakukan kebaikan lebih banyak dari keburukan jika manusia ini ingin mengalami keselamatan, yakni masuk surga. Dalam penilaian keliru orang Kristen (tentang ini, lihat di sini), soteriologi Islami yang menempatkan perbuatan manusia pada tempat utama ini menyebabkan kaum Muslim terus-menerus merasa tidak pasti mengenai masa depan mereka di alam akhirat.

Click here to look inside
Soteriologi salib, sebagai jalan keselamatan harus digugat, harus disingkirkan dari ranah kehidupan yang menghargai akal dan moralitas. Hal ini karena soteriologi salib dibangun di atas sebuah asumsi negatif bahwa manusia pada diriya sendiri, secara moral, adalah makhluk yang pada kodratnya serba bobrok dan bejat, yang sama sekali tidak bisa berbuat baik, yang telah sepenuhnya kehilangan kemuliaan Allah (teks Bible yang sering dikutip gereja adalah Roma 3:10-23). Kebobrokan dan kebejatan moralitas manusia ini pertama-tama adalah, kata gereja dengan mengutip teks Bible, akibat dari dosa Adam dan Hawa dulu di Taman Eden (Kejadian 3:1-19), yang terus menjalar ke seluruh manusia di seantero planet bumi dan di segala zaman sampai dunia ini kiamat (Roma 5:12-19).

Gereja dengan ekstrim lebih jauh mengajarkan bahwa pemberontakan Adam dan Hawa terhadap Allah yang mengakibatkan mereka menerima penghukuman ilahi dan menyebabkan setiap bayi yang baru dilahirkan pada masa sesudahnya, dilahirkan sebagai manusia berdosa yang bermoral bejat, kendatipun sang bayi masih belum tahu membedakan tangan kanannya dari tangan kirinya.

Dosa asal atau "dosa warisan" ini menyebabkan setiap orang sejak dilahirkan sudah bobrok secara moral, dan untuk seterusnya tidak akan mampu berbuat baik dan benar secara moral, sampai mereka, demikian gereja mengajarkan, diselamatkan oleh azab dan kematian Yesus dan menerima baptisan Kristen sebagai suatu tahap inisiasi masuk ke dalam kehidupan yang diselamatkan di dalam persekutuan gereja.

Menurut soteriologi salib, ketika Yesus memikul salib, menanggung azab, kesengsaraan dan aniaya, dan akhirnya mati dibunuh melalui penyaliban oleh musuh-musuhnya, Yesus mengalami ini semua karena dia diharuskan (Yunani:dei) Allah untuk menanggung di atas pundaknya sendiri semua penghukuman ilahi yang seharusnya ditanggung manusia karena dosa-dosa mereka terhadap Allah, baik dosa warisan Adam dan Hawa maupun dosa pribadi.

Karena Yesus, demi manusia, sudah menanggung hukuman berat ini di dalam azab, kesengsaraan dan kematiannya sendiri, manusia tidak perlu lagi menerima penghukuman Allah, tapi tinggal menerima keselamatan saja, tanpa harus membayar apapun, sebab semuanya diberikan betul-betul gratis oleh Allah (sola gratia).

Untuk manusia menerima keselamatan dari Allah, dibebaskan dari penghukuman ilahi, manusia, demikian gereja mengajarkan, hanya perlu menerima dengan patuh dan dengan iman (sola fide) jalan keselamatan yang Allah telah sediakan ini.

"Menerima dengan patuh" berarti menyatakan ya dan persetujuan total, tanpa protes apapun, terhadap kekerasan dalam azab, kesengsaraan dan kematianYesus sebagai jalan pengganti yang seharusnya ditempuh manusia berdosa, sebagai jalan untuk membebaskan manusia dari penghukuman ilahi, sebagai jalan untuk menebus manusia dari hutang nyawa yang ditimbulkan oleh dosa yang telah diperbuat nenek moyang manusia maupun oleh diri mereka sendiri, sebagai jalan yang melaluinya Allah mendamaikan diri-Nya dengan manusia, sebagai jalan manusia mengalami pemulihan hubungan dengan Allah dan dengan sesamanya.

"Menerima dengan iman" berarti mempercayai dengan sungguh-sungguh dalam hati dan menerima dalam pikiran sebagai kebenaran bahwa jalan salib Yesus dan kematiannya yang tragis dan mengerikan telah dengan mujarab menghapus semua dosa manusia, telah dengan cespleng menyembuhkan manusia dari luka-luka yang ditimbulkan oleh kehidupan yang berat dan melelahkan sebagai akibat dosa-dosa manusia, telah dengan berkhasiat mendatangkan suatu kehidupan baru melalui kelahiran kembali (rebirth) manusia yang dikerjakan oleh Roh Kudus sehingga manusia mampu menjalani kehidupan moral yang benar dalam hubungannya dengan Allah dan dengan sesama.

Pendek kata, soteriologi salib adalah jalan keselamatan yang dibangun dengan men-sakralisasi tindakan barbar orang-orang Yahudi dan Romawi yang berakibat kematian tragis seorang manusia yang dikisahkan bernama Yesus, dan sebagai jalan lahirnya 'manusia baru' yang 'lebih bermoral' dengan cara terlebih dulu menginjak-injak martabat kemanusian, akal dan moralitas bawaan yang dianugrahkan Tuhan, berdasarkan asumsi adanya dosa warisan. Karena itu bahkan dapat dikatakan bahwa soteriologi salib itu sendiri adalah jalan keselamatan yang tidak bermoral. 

Alhamdulillah, penulis mempercayai Tuhan yang sangat menghargai akal, yang menjunjung martabat kemanusiaan. Tuhan yang menyerukan agar kita mengambil pelajaran dari umat-umat terdahulu sehingga kita bisa selamat di dunia dan di akhirat.  Tuhan yang tidak pendendam. Tuhan yang maha pemurah dan maha penyayang sehingga kita tidak perlu menanggung dosa warisan dan terhindar dari dosa dengan men-sakralisasi tindakan barbar berupa kisah penyaliban.


In God We Trust
Wassalam

(disarikan dari: Soteriologi Salib Tidak Mujarab & Soteriologi Salib Meremehkan Kemampuan Manusia oleh Ioanes Rakhmat, dengan berbagai perubahan dan pengayaan). 

Tidak ada komentar: