Benarkah YHWH adalah Allah?


Lafadz jalalah "Allah" adalah nama khusus untuk Tuhan, sebagai nama yang menegaskan bahwa Dia adalah Al-Ilah, yaitu satu-satunya Ilah (sesembahan) yang benar untuk disembah, diibadahi, karena hanya Dia saja Sang Pencipta, Penguasa, Pengatur dan Pemelihara Alam Semesta (Tuhan).

Nama Allah sebagai Al-Ilah ini begitu istimewa, independen, tidak bergantung atau disandarkan pada nama-nama lainnya, tapi justru menjadi sandaran bagi semua nama-nama lainnya. Seluruh Asmaul Husna dan yang lainnya bersandar, mengacu, tertuju kepada Allah, misal: nama Ar-Rahman, berarti Allah Yang Maha Pengasih, Ar-Rahim = Allah Yang Maha Penyayang, dsb.

Adapun secara etimologi, kata/ lafadz jalalah "Allah" adalah dari "Al-Ilah" atau "Al-Ilah" menjadi "Allah", dimana huruf hamzah pada "Al-Ilah" menjadi hilang untuk memperingan (ucapan) mengingat begitu seringnya digunakan. Hal ini sama seperti dalam kata "An-Naas" (manusia) yang asalnya adalah "Al-Unaas" dimana huruf hamzah menjadi hilang. (Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah, kalimat aslinya di sini). Terkait dengan hal ini, ada "inskripsi al-ilah", misal inskripsi Zabad (512M), yang diawali dengan Bism al-ilah, kemudian disusul beberapa nama orang Kristen Syria: Bism al-ilah: Serjius bar 'Amad, Manaf wa Hani bar Mar al-Qais, Serjius bar Sa'ad wa Sitr wa Sahuraih (Dengan nama Al-ilah: Sergius bin Amad, Manaf dan Hani bin Mar al-Qais, Sergius bin Sa’ad, dan Sitr dan Sahuraih). Dari "al-ilah" semisal tersebut yang dalam tradisi lisan pasti jauh lebih tua dari tulisan, kemudian menjadi "Allah" yang telah dikenal jauh sebelum Islam. Agama Islam kemudian mengkonfirmasi kebenarannya sekaligus menegaskan bahwa kata "Allah" adalah benar sebagai nama Tuhan, dan bahwa Tuhanku, Tuhanmu, Tuhan kita semua adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Allah sebagai Al-Ilah dan sebagai Dzat wajibul wujud itu memiliki Sifat-sifat dari seluruh sifat yang menjadi dasar nama dari seluruh Asmaul Husna, dan juga sifat-sifat lainnya yang tidak menjadi nama Allah. (setiap Nama Allah pasti mengandung Sifat, tapi tidak semua Sifat Allah bisa menjadi Nama Allah).

Kata "Allah" sebagai nama khusus untuk Tuhan, sebagai nama diri/ proper name, maka kata ini tidak ada bentuk jamaknya, dan tidak boleh/ sangat tidak lazim bila ditambah dengan akhiran seperti -ku, -mu, -nya, -kita, dsb (kecuali oleh orang yang nekat mempertunjukkan kebodohannya).

Adapun kata "ilah" yang seringkali diterjemahkan menjadi "Tuhan" atau "tuhan" atau "sesembahan", sebagai sebutan yang bersifat umum yang dalam Al-Qur'an digunakan untuk menyatakan sesuatu yang dipentingkan oleh manusia sedemikian rupa sehingga dirinya dikuasai (secara sukarela/ sadar/ tidak sadar) oleh sesuatu tersebut, baik sesuatu itu adalah Tuhan atau bukan Tuhan, abstrak maupun nyata secara indrawi, maka kata "ilah" bisa ada dalam bentuk tunggal/ mufrad: ilaahun/ ilah, maupun banyak/ jamak: aalihatun/ alihah (rujuk QS. Fushilat/ 41:6; Al-Isra/ 17:43; Al-Anbiyaa/ 21:43; Al-Furqan/25: 43; Jatsiyah/ 45:23; Al-Qashas/28:38).

Karena ada nama yang bersifat khusus dan umum ini pula, maka sebodoh apapun kaum jahiliyah Arab kuno pra-Islam, mereka masih bisa membedakan antara Ilah Allah yang adalah Tuhan dengan ilah-ilah (alihah) lainnya yang adalah berhala. "Berhala" atau inaatsan, adalah apapun yang  disembah selain Allah (lihat QS. An-Nisaa/ 4: 117). Mereka menyembah para berhalanya sebagai perantara kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagai sekutu, atau pelindung-pelindung lain selain Allah. Tidak ada satupun dari mereka yang menganggap  berhalanya sebagai Allah, apalagi menyebut/ memberi nama berhala mereka dengan kata "Allah". Kaum jahiliyah Arab kuno pra-Islam hanya kehilangan Tauhid Uluhiyah tetapi masih memiliki Tauhid Rububiyah (lihat QS Al-'Ankabut/ 29: 61; QS. Az-Zukhruf/ 43: 9, 87, dsb). Dalam hal ini bisa berarti pula bahwa ternyata kaum jahiliyah Arab kuno pra-Islam itu masih jauh lebih pintar daripada kaum jahiliyah modern saat ini yang telah kehilangan Tauhid Uluhiyah maupun Tauhid Rububiyah. Kaum jahiliyah modern saat ini tidak hanya menyembah ilah-ilah lain selain Allah, tapi juga menganggap alihah lainnya itu sebagai Tuhan Pencipta bersama Allah sebagaimana doktrin/ dogma yang diyakini para penyembah Tuhan Trinitas/ Tritunggal (kaum Trinitarian).

Allah sebagai Dzat wajibul wujud juga memiliki nama yang tidak terbatas. Hal ini tersirat dari sebuah hadits dalam bentuk doa dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang begitu indah menyentuh jiwa, sebagai doa pelipur lara bagi siapa saja yang sedang mengalami duka nestapa, gundah gulana: 
"Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu, anak hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu, berlaku hukum-Mu terhadap diriku dan adil ketetapan-Mu pada diriku. Aku memohon kepada-Mu dengan segala nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namai diri-Mu dengannya, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau turunkan di dalam Kitab-Mu, atau Nama-nama yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu. Hendaklah kiranya Engkau jadikan Al-Qur'an penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku dan penghilang rasa sedihku, serta penghilang bagi kesusahanku." (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad I/391 & 452; al-Hakim I/509; juga dimuat dalam Silsilah Ash-Shahihah al-Albany 1/383 no. 199).

Dan: "Sesungguhnya Allah itu adalah Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus!" (QS. Ali Imran/ 3: 51).

Kata "Tuhanku" dan "Tuhanmu" ("Rabbku" dan "Rabbmu") dalam ayat tersebut bermakna rububiyah, mempunyai arti sebagai Penciptaku dan Penciptamu. Namun dalam konteks tertentu, kata "rabb" dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah juga bisa berarti ilah, tidak selalu bermakna rububiyah. Misal dalam surat Yusuf/ 12:39, "Wahai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, rabb-rabb  yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?".  Kata "arbab/ rabb" yang digunakan dalam ayat ini berarti ilah-ilah/ sembahan-sembahan, yang terkadang diterjemahkan menjadi tuhan-tuhan.  

Adapun dalam As-Sunnah, yaitu dari suatu hadits yang menceritakan perbincangan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassallam dengan sahabatnya yang sebelumnya beragama Kristen, yaitu Adi bin Hatim. Dari Abi bin Hatim, suatu ketika ia mendengar Nabi Shallallahu 'Alaihi Wassallam membaca ayat ini: "Mereka (ahli kitab) menjadikan pendeta-pendeta dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah.." (QS. At-Taubah/ 9:31). Maka aku (Adi) berkata pada beliau, "Sesungguhnya kami dahulu tidak menyembah mereka." Nabi menjawab: "Bukankah dahulu mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah kemudian kalian pun ikut mengharamkannya. Dan mereka juga menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan kalian pun ikut menghalalkannya?" Lalu kukatakan: "Iya, betul demikian." Maka Nabi bersabda: "Itulah yang dimaksud penyembahan kepada mereka." (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

*Ada banyak sesembahan/ ilah-ilah/ terkadang disebut "rabb"/ tuhan-tuhan (tuhan dengan "t" kecil), namun hanya ada satu-satunya ilah yang benar untuk disembah, diibadahi, yaitu al-ilah, Allah.

*Allah adalah Al-Ilah (= satu-satunya Ilah yang benar untuk disembah, diibadahi), karena Allah adalah Sang Pencipta, Penguasa, Pengatur dan Pemelihara Alam Semesta (= Rabb/ Tuhan).


Bagaimana Tentang YHWH?

Tetragrammaton, empat huruf mati/ konsonan YHWH dalam Taurat/ Torah (juga pada Tarot/ kartu ramalan para dukun/ penyihir), adalah nama sebagai sebutan dalam bentuk orang ketiga tunggal untuk Tuhan yang mengatakan: Ahayah Asher Ahayah, atau Ahayah, kepada Nabi Musa di Horeb/ Thuwa (lihat: Keluaran 3:1,13-15).

Ahayah Asher Ahayah = Aku Adalah Aku.

Ahayah = Aku Ada/ Akulah Aku, dari Hayah = Yang Ada/ Hidup

YHWH = YaHuWaHu = Dia Adalah Dia, yaitu Dia yang mengatakan Aku Adalah Aku kepada Nabi Musa 'Alaihissalam.

Dari berbagai vokalisasi YHWH, misal: Yehowah, Yehowih, Yahowah, Yahowih, Yehwah, Yehwih, Yehweh, Yahweh, dst, YAHUWAH adalah pengucapan yang paling mendekati makna sebenarnya dari tetragrammaton/ empat huruf mati/ konsonan YHWH. Apalagi YHWH itu adalah Tuhan yang Datang ("Berasal") dari Arab Saudi (lihat Ulangan 33:2; Habakuk 3:3), maka sangat dekat dengan kata dalam bahasa Arab HUWA (DIA); dimana Musa pun sudah selama 40 tahun menggunakan bahasa Arab saat itu, yaitu sejak menjadi menantu orang Arab di Midian/ Madyan. Saat itulah Musa mengenal Tuhan dengan nama Ahayah Asher Ahayah, yang dalam perkembangan selanjutnya nama itu disebut dalam bentuk orang ketiga tunggal, yaitu YAHUWAH. Dari "AKU" menjadi "DIA".

[*Sebelum menjadi nabi, Musa mengenal Tuhannya dengan nama EL yang bisa diketahui dari nama anaknya, yaitu EIiezer (= EL, ilah leluhurku adalah penolongku, telah  bebaskan aku dari hukuman Fir'aun, lihat Keluaran 18; adapun sebab Musa lari dari Mesir bisa lihat QS. Al-Qashash/ 28: 15). Musa lari dari Mesir usia 40 th, Kisah 7:23; menjadi Nabi dan kembali ke Mesir pada usia 80 th, Kel. 7:7; mengembara selama 40 th/ meninggal di Yordania usia 120 th Ul. 34:7. Maka ia hidup selama 40 th di Arab Saudi plus 40 th di Arab Saudi dan di Yordania].

[*Kelompok Yahwis berusaha meng-internasionalkan nama YHWH dan 'menuakan umurnya', dengan cara menuliskannya di kitab Kejadian, sebagai 'Tuhan semesta alam, Tuhan seluruh umat manusia', sebagai nama Tuhan yang telah dikenal sejak zaman/ oleh Adam-Hawa (Kej.3, atau sejak Set? Kej.4:26), sejak Nuh, Abraham, dst., sebelum zaman Musa;  Tapi.. lupa pada pernyataan di Keluaran 6: 3 (menegaskan sebagai EL/ EL Shaddai = IL Shaddu - bhs Akkadia, bukan sebagai YHWH), maupun narasi di Keluaran 3: 13-15, sehingga terjadi pertentangan yang tak bisa dikompromikan. Dan yang harus diterima adalah bahwa nama YHWH baru dikenal di masa Musa, pertama kali oleh Musa, pun saat ia berusia 80 th. Nabi Yakub, Ishak, Abraham (Kej.12), Nuh (Kej.9), Set (Kej.4),  apalagi Adam-Hawa (Kej.3), tidak tahu menahu dengan Tuhan dalam nama YHWH yang sangat jauh dari zaman kenabian mereka.
**Atau dengan kata lain, kitab Pentateukh (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan) itu memang ditulis setelah Nabi Musa mengenal nama YHWH, sehingga penulisan nama itu hanyalah 'ingatan teologis', bukan 'ingatan historis'. Jauh berabad-abad setelah masa Nabi Musa mengenal nama itu barulah 'ingatan teologis' yang telah berkembang di masyarakat itu ditulis (entah oleh siapa saja penulisnya), menjadi Tanakh. Dalam penulisan ini ada pula  kepentingan agar YHWH yang bersifat tribal, sebagai 'Tuhan eksklusif Israel' menjadi 'Tuhan Internasional', inklusif untuk semua manusia dan 'telah tua umurnya'... sejak masa Adam- Hawa ... Tapi.. karena ada pernyataan di Keluaran 6:3, dan narasi tentang Musa yang baru mengenal nama YHWH di Keluaran 3: 13-15, maka hasilnya adalah terjadi pertentangan dengan beragam ayat di kitab Kejadian yang tidak bisa dikompromikan!].

[*Bagaimana dengan QS. Al-Qashash/ 28: 30: "Ya Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam" (ya musa innii anallaahu rabbul 'aalamiin). Apakah harus berarti bahwa saat itu Tuhan berbicara kepada Musa dalam bahasa Arab seperti  tersebut dan mengenalkan nama-Nya sebagai Allah?! *Hal itu telah dijawab dengan ayat: "Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka." (QS. Ibrahim/ 14: 4); dan telah dimaklumi dengan adanya kenyataan bahwa nama anak Nabi Ibrahim adalah Ismail (EL/IL mendengarnya), bukan Ismallah, meskipun Nabi Ibrahim dikisahkan misalnya dalam Surat Al-Baqarah/ 2: 258 mengatakan: fa innallaha...].

"Dia" yang mengatakan "Aku Adalah Aku" kepada Nabi Musa 'Alaihissalam, yang berbicara secara langsung (dari Arsy/ langit, Ulangan 4:12, 36; Nehemia 9:13; QS. Asy-Syuura/ 42: 51, QS. An-Nisaa/ 4: 164: Musa hanya mendengar suara-Nya, dan tidak seorang pun termasuk Nabi Musa bisa melihat Tuhan di dunia), tentu adalah Sang Pencipta, Penguasa, Pengatur dan Pemelihara Alam Semesta (Tuhan). Apalagi interaksi Nabi Musa dengan Tuhan di Horeb (Thuwa), maupun di gunung Sinai (Thursina), seperti diceritakan dalam Bibel: Keluaran pasal 3 dan 19; telah dikonfirmasi kebenarannya dalam kitab suci Al-Qur'an. Misalnya dalam surat Al-Qashash/ 28: 29-35; Thaha/ 20: 9-14; An-Naziat/ 79: 16), dan Al-Araf/ 7: 142-154; Maryam/ 19: 51-53; Al-Mukminun/ 23: 30 dll., (tentu dengan beberapa pengecualian dimana Al-Qur'an sebagai penguji validitas isi kitab-kitab sebelumnya; Al-Maaidah/ 5: 48). Dengan demikian, dalam hal ini YHWH adalah sembahan yang benar. YHWH adalah al-ilah, adalah Allah.

Akan tetapi mengingat nama YHWH adalah merujuk ke pribadi lain, yaitu nama sebagai sebutan dalam bentuk orang ketiga tunggal/ tidak murni sebagai nama diri,  bukan sebagai nama yang independen, maka saat menyebut YHWH (Dia Adalah Dia) tidak berarti pasti tertuju pada Tuhan. Ini semua tergantung dari siapa yang dimaksud dengan "Dia".

"Dia Adalah Dia" yang berkata "Aku Adalah Aku" kepada Nabi Musa 'Alaihissalam, yang berarti Allah. Atau "Dia" yang tertuju kepada makhluk ciptaan Allah secara netral atau bahkan kepada ilah-ilah lain atau berhala.

Hal ini hampir sama halnya dengan "YHWH dalam Al-Qur'an" yaitu berbagai kata HUWA (Dia) dalam kitab suci Al-Qur'an yang bisa merujuk kepada Allah atau kepada selain Allah. Misal HUWA dalam Surat Al-Ikhlas/ 125: 1, yang merujuk kepada Allah dan HUWA dalam Surat Ali-Imran/ 3: 85, yang merujuk pada orang yang akan rugi di akhirat karena mencari agama/ beragama selain Islam.

Yang sangat memprihatinkan adalah bahwa dalam prakteknya nama YHWH itu beberapa kali tertuju kepada berhala. :'(
Misal sbb:
1)      YHWH sebagai sebuah berhala patung lembu emas. (Keluaran 32:4), Dibuatnyalah dari padanya anak lembu tuangan. Kemudian berkatalah mereka: "Inilah ilahmu, hai Israel, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!"
2)     YHWH sebagai dua buah berhala patung lembu emas. (1Raja-raja 12:28). Sesudah menimbang-nimbang, maka raja (Yerobeam) membuat dua patung anak lembu jantan dari emas dan ia berkata kepada mereka: "Sudah cukup lamanya kalian pergi ke Yerusalem. Lihatlah ilah-ilahmu hai Israel, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!"
3)     YHWH sebagai salah satu dari banyak berhala Baal, HaBaal/ Hubal; Baal-YHWH diantara Baal-Berit, Baal-Gad, Baal-Peor, Baal-Zebub dll., sebagaimana disebut dalam Yeremia 31:32, "... meskipun Aku telah menjadi  Baal bagi mereka", sebagai Baal-YHWH; kemudian diubah menjadi Ishi seperti tersebut dalam Hosea 21:16, "... engkau akan memanggil Aku: Ishi-ku, tidak lagi memanggil Aku: Baal-ku!" (*salah satu dari berhala Baal/ Hubal dibawa ke Mekah oleh 'Amr bin Luhay yang dalam hal ini menjadi pionir maupun pendorong adanya ratusan berhala di Ka'bah era jahiliyah kuno pra-Islam, sehingga agama yang hanif dari Nabi Ibrahim-Ismail 'Alaihissalam menjadi bengkok. Tapi kaum jahiliyah Arab kuno pra-Islam tidak sampai sebodoh kaum bani Israel yang tersebut dalam poin satu dan dua yang sampai menyebut/ menyamakan berhalanya dengan Tuhannya/ YHWH).
4)     Dalam bentuk singkat dari YHWH: awalan YAHUWAH atau akhiran AHAYAH, yaitu YAH; ada juga YAH yang berdiri sendiri (Keluaran15:2;17:16), bisa pula berarti dua makna. Tertuju kepada YAH Tuhan atau kepada YAH Dewa Bulan dari Mesir. Maka kata HALELUYAH (Wahyu 19:1,3,4) = bisa berarti Pujilah Tuhan atau Pujilah Dewa Bulan! Bagaimana pula makna kata "Yah YHWH" (Yesaya12:2; 26:4)?!
5)     Ada pula YHWH sebagai YAHWEH yang adalah penghalusan dari kata YAHREAH dimana suara "R" dipelintir menjadi "W". Ini adalah juga nama dewa bulan Mesir (lihat Yeremia 44:8) yang dibawa dan disembah di Israel (lihat 2Raja 23:5). Jadi YAHWEH adalah nama kuno untuk Dewa Bulan.
6)     Adapula YHWH sebagai YAHWEH/ YAHVEH yang adalah dewa Zeus Yunani IAOVE. Tahun 1567 Genebrardus meminjam istilah Klemen dari Aleksandria dari kalangan Platois Gnostik, yaitu ejaan Yunani dari nama dewa Zeus: IAOVE yang juga dikenal sebagai JOVE (dewa Yupiter Romawi). Ejaan IAOVE ini diubah menjadi YAOVE kemudian ditambah huruf H dan membuang huruf O sehingga menjadi YAHVE. Agar penemuannya ini ada dukungannya, ia mengutip pula Alkitab Samaria yaitu kata IABE. Kata ini diubah menjadi YABE , dan B diubah menjadi V sehingga menjadi YAVE, kemudian tinggal disesuaikan dengan empat huruf YHVH, yakni dengan menambah dua huruf H, di tengah dan di akhir kata, maka jadilah YAHVEH/ YAHWEH. (menurut pastor Dr. G. Reckart).
7)     Ada pula YHWH sebagai YAHWEH pasangan ASYERAH, disembah bersama Asyerah (2Raja 23:7; Yeremia 17; 1-2; inskripsi Kuntilet Ajrud dll.)


Akhir kata..
Dari semua hal di atas, bila pertanyaan dari judul tulisan ini harus dijawab, maka maksimal hanya dapat dikatakan bahwa: YHWH adalah Allah Secara Sangat Kondisional mengingat berbagai hal terkait permasalahan YHWH tersebut diatas!

Dan: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami adalah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu." (QS. Fushshilat/ 41: 30).

Kemudian: "... jika setan mengganggumu dengan suatu godaan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Dan sebagian dari  tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada  matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu (benar-benar) hanya menyembah kepada-Nya." (QS. Fushshilat/ 41: 36-37).

Semestinya dibaca:

Tidak ada komentar: