Buddhisme?


Buddhisme adalah pengikut ajaran Siddharta Buddha Gautama (566-485 SM). Siddharta lahir di Nepal Selatan, di Lumbini, tak jauh dari Kapilavastu ibukota Shakya. Ayahnya, yaitu Shuddhodana adalah bangsawan dari marga Gautama, kemungkinan sebagai adipati di Shakya.[AB]

Buddhisme atau yang terlanjur disebut sebagai agama Buddha, sebenarnya lebih sebagai sebuah filsafat (asah otak sampai botak?), melalui berbagai semedhi/ meditasi intensif dengan panduan koan (berbagai kisah dialog/ debat), maupun memfokuskan pikiran dengan penuh pengagungan pada berbagai hal yang dipilih para Buddhis terutama pada berbagai patung/ rupang/ arca/ stupa dari pendiri dan para tokoh Budhisme dari setidaknya tiga level dibawah Buddha Gautama.
           
Adapun berbagai naskah tentang Buddhisme pertama kali ditulis tiga abad setelah kematian Buddha, sehingga sulit untuk menentukan ketepatan perincian yang dimuat di berbagai catatan itu.[AB]

Buddhisme adalah ateis, seperti ditegaskan dalam Kongres Dewan Sangha Buddhis Dunia (WBSC: World Buddhist Sangha Council), yang pertama di Colombo, Sri Lanka (27-01-67), yang secara bulat menyepakati sembilan poin. Pada poin ke tiga dinyatakan bahwa Buddhisme tidak meyakini bila dunia ini diciptakan dan diatur oleh Tuhan. Oleh karena itu, bila agama adalah jalan menuju Tuhan, maka Buddhisme adalah jalan untuk menolak Adanya Tuhan (menjadi makhluk ateis).

Bila agama bisa membedakan antara makhluk/ ciptaan/ alam dengan Sang Pencipta/ Tuhan, maka Buddhisme jauh dari memahami hal ini.

Bila agama menjadikan diri pribadi dan alam semesta raya sebagai salah satu jalan mengenal/ mengetahui Adanya Tuhan, maka Buddhisme memandang alam kehidupan hanya sebatas sebagai tempat kesengsaraan/ samsara.

Bila agama memahami hukum alam sebagai bagian sunatullah/ ketentuan dari Tuhan, maka Buddhisme mendoktrin bahwa alam semesta maupun hukum alam itu terjadi dengan sendirinya, tapi disisi lain berlawanan dengan dogma Buddhisme “ada ini maka ada itu...” alias hukum sebab akibat/ hukum kamma/ hukum karma, yang begitu rumit.

Bila agama melarang keras menyembah patung/ berhala dan memerintahkan untuk hanya menyembah kepada Tuhan sebagai jalan menuju Surga, maka Buddhisme justru memberi perintah untuk menyembah, bersujud, namaskara penuh penghormatan dan pengagungan pada berbagai patung dari pendiri dan para tokoh dari setidaknya tiga level dibawahnya (juga kepada para bhikkhu dan bhikkhuni) dengan harapan besar supaya bisa masuk Surga/ terlahir kembali didalamnya sebagaimana dogma yang diajarkan Buddha Gautama menjelang kematiannya.

Bila para Teis berlindung kepada Tuhan, maka Buddhis berlindung kepada Tisarana/ tiga perlindungan/ tiga ilahnya, yaitu Buddha Gautama, Dhamma (Dharma) dan Sangha.

Bila agama adalah jalan menuju pencerahan dari Tuhan, maka Buddhisme adalah jalan menuju “pencerahan” dari “diri sendiri” (tergantung siapa/ apa  yang dibayangkan saat semedhi/ meditasi hingga dapat “pencerahan” dari beragam ilah yang ada dihadapannya atau dalam benaknya, alias jalan menuju ke Selain Tuhan yang bisa diartikan sebagai jalan menuju Mara/ Setan/ kegelapan.

Bila agama adalah jalan menuju kekekalan yang baik (surga), maka Buddhisme adalah jalan menuju kehampaan, kekosongan, kesia-siaan, hilangnya segala keinginan, kemusnahan tanpa sisa, berada dalam kondisi Nirvana, Nibbana. Meskipun Buddisme juga menginginkan terlahir di alam dewa, di surga, tapi itu bukan tujuan tertinggi karena menurut doktrin yang dipercayai bahwa itu semua bersifat sementara (tidak kekal, namun tidak kekalnya itu dalam doktrin Buddhisme bisa mencapai waktu ratusan ribu bahkan jutaan milyar tahun dunia, hm! Jadi tiada beda bila itu disebut sebagai alam yang kekal).

Tujuan akhir dari para Buddhis adalah mencapai Nibbana dan selanjutnya menjadi Atthi ajatang abhutang akatang asamkhatang (bhs. Pali: Suatu yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan, tidak diciptakan dan yang mutlak). Tujuan ini dibangun atas dasar adanya dogma tumimbal lahir, dogma hukum karma, doktrin ketidak kekekalan alam akhirat, maupun pandangan bahwa kehidupan adalah kesengsaraan belaka.

Dengan dogma tumimbal lahir, maka para Buddhis didoktrin untuk mempercayai bahwa seseorang itu terlahir dari (dan akan dilahirkan kembali dalam) berbagai alam, dari alam dewa sampai alam binatang, setan/ hantu, dari alam surga sampai alam neraka. Para Buddhis didoktrin untuk percaya bahwa bisa jadi: “sapi/ kerbau/ monyet/ anjing/ cacing/ rayap, itu adalah ibunya” atau ia bisa terlahir menjadi hewan2 tsb, dll., tergantung dari karma yang ia terima berdasar pada dogma dari hukum karma.

Nah, agar tidak terlahir dalam berbagai alam tersebut, dibuatlah doktrin tentang Nibbana maupun Atthi ajatang abhutang... sebagai tujuan tertinggi para buddhis.

Nibbana (Pali) atau Nirvana (Sansekerta), berasal dari kata, Nir = tanpa/ tiada, dan Vana = nafsu keinginan. Nirvana adalah kondisi batin yang terbebas dari ikatan nafsu keinginan sebagai penyebab semua makhluk bertumimbal lahir, mengarungi alam samsara/ sengsara. Sebagaimana diketahui bahwa Buddhisme memandang bahwa kehidupan tiada lain adalah kesengsaraan, suatu hal yang sangat berbeda dengan Teisme yang memandang bahwa hidup di dunia ini adalah sebagai kesempatan untuk berbuat yang terbaik dalam rangka menjalani ujian dari Tuhan atau untuk beribadah kepada Tuhan sebagai bekal kehidupan kekal di akhirat.

Nibbana ini dicapai dengan cara membebaskan diri dari yang dianggap sebagai kemelekatan/ kekotoran batin, yaitu dari lobha (keserakahan), dosa (kemarahan) dan moha (kebodohan batin), dengan definisi masing-masing sesuai doktrin yang dibangun dalam Buddhisme.

Cara membebaskan diri dari hal tersebut atau untuk mencapai Nibbana, yaitu dengan menempuh apa yang disebut sebagai jalan mulia beruas delapan, memahami empat kesunyataan mulia, dan meminta perlindungan pada tiga ilah yang dipercayainya, yaitu Tisarana: Buddha Gautama, Dhamma dan Sangha, dan berbagai cara lainnya sesuai apa yang diajarkan oleh para ilahnya yang bukan Tuhan, tapi para manusia ciptaan Tuhan. Jadi dalam hal ini (untuk mencapai tujuan tertingginya), maka para Buddhis menjalani kehidupan mengikuti beragam dogma, doktrin ataupun arahan dari para makhluk (yang notabene adalah ciptaan Tuhan); sedangkan para Teis menjalani kehidupan sesuai hukum-hukum yang datang dari Tuhan, sesuai apa yang disyariatkan oleh Tuhan melalui para Nabi dan Rasul-Nya.

Bila para Buddhis dalam hidupnya sudah bisa mencapai kondisi Nibbana, maka dimungkinkan saat mati akan bisa menjadi Atthi ajatang abhutang akatang asamkhatang. Menjadi “suatu” yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan, tidak diciptakan dan “yang mutlak”, terbebas dari tumimbal lahir/ dari samsara.

Menjadi suatu ketiadaan... dari ketiadaan lainnya, sebagaimana dalam Buddhisme ada pula dogma anatta: tiadanya diri/ aku/ atman/ jiwa/ ruh. Sebuah doktrin yang dibangun seiring pertarungannya dengan agama Hindu. Dan disisi lain sangat sarat dengan kepercayaan pada berbagai makhluk halus/ alam ruh/ hantu.

Tapi bagaimana bisa menjadi Atthi ajatang abhutang akatang asamkhatang, menjadi “suatu”, menjadi “yang mutlak”, dari sesuatu yang tidak pernah ada sesuai dogma anatta/ tiadanya ruh?

Bagaimana bisa disebut tidak terlahir kembali, menjadi tiada dari suatu ketiadaan? Maka dalam hal ini dan terutama mengenai dogma tumimbal lahir, para Buddhis seringkali menyamakannya dengan proses reinkarnasi dalam ajaran agama Hindu yang memang lebih rasional dibanding dogma tumimbal lahir ala Buddhisme yang membuat para Buddhis sendiri kebingungan menjelaskannya.

Dan apakah Siddharta Buddha Gautama sendiri telah mencapai Nibbana mengingat beliau diakhir hayatnya bahkan masih penuh kemelakatan?

Misal, ia meminta supaya jenazahnya dibungkus dengan 1.000 lembar kain (yang katanya seperti para raja dunia). Maka jenazahnya pun dibungkus dengan 500 lapisan kain linen baru dan 500 lembar kain wol-katun. Alamak... bayangkan bagaimana bentuk bungkusan itu, bagaimana penampakkan Buddha terbungkus 1.000 lapisan kain! Kenapa kain itu tidak disumbangkan saja kepada para petapa telanjang yang banyak berada di sekitarnya, yang seringkali dikritisi olehnya? Tapi malah untuk dibakar bersama jenazahnya. Sungguh tiada pikir dan mubazir!

Juga perintahnya untuk mendirikan berbagai stupa dirinya di berbagai  perempatan jalan, maka terbentuklah 10 stupa berisi relik/ sisa tulang belulang/ abu bakaran dirinya saat itu yang dimaksudkan untuk pemujaan dirinya dan mendoktrin para  pengikutnya bahwa stupa/ patung tersebut akan membuat hati banyak orang menjadi tenang dan bahagia dan dijanjikan akan masuk surga bila mengagung-agungkan stupa/ patung dirinya (juga para tokoh Buddhis tiga level dibawahnya). Sungguh, Buddha yang narsistik! [DN-e

Kemelekatan lainnya juga terlihat saat ia dan para bhikkhu di rumah Cunda Kammaraputta dalam acara “perjamuan terakhir”. Buddha lebih kurang berkata: "Cunda, sukara-maddava nya untuk aku saja, sedangkan makanan lainnya yang keras dan yang lunak kamu kasih kepada mereka para bhikkhu!"

Kenapa ia tak berbagi dengan lainnya?
Oh, mungkin dengan Abhinna yang dimilikinya, ia mengetahui bahwa sukara-maddava tersebut beracun, hingga tak boleh dibagikan pada lainnya dan sisanya pun mesti dikubur. Tapi kenapa dengan abhinna itu pula ia malah memakan makanan beracun itu, sehingga menyebabkan meninggal dunia? Kenapa abhinna iddhividha Buddha kalah sakti dengan racun dalam makanan tersebut?

Oh, Buddha wafat bukan karena racun makanan tersebut! Tapi akibat banyaknya sukara-maddava yang dimakannya, padahal saat itu ia sudah sangat tua (80-th), sehingga sesaat setelah makan, maka ia yang tubuhnya sudah rapuh sering sakit-sakitan langsung menderita sakit perut, diare dengan banyak darah yang keluar melalui rektumnya. Bayangkan saja berapa banyak sukara-maddava yang disiapkan oleh Cunda si tukang besi, yang sedianya untuk menjamu semua dari sekelompok/ puluhan bhikkhu tersebut, namun akhirnya hanya dinikmati seorang diri oleh Buddha, jadi bukan satu kendil tapi satu gentong sukara maddava. Karena itu Buddha mengalami infarksi mesenterika atau apapun lainnya terkait kombinasi makanan dan penyakit usia tua, hingga berujung pada kematian. Wa-Allahu a‘lam. Tapi dengan demikian berarti ia masih dipenuhi kemelekatan dan sebaliknya teori/ dogma Abhinna Buddha pun hanya khayalan belaka! hm.. jadi pilih yang mana?

*Sukara-maddava adalah daging babi lunak (gulai babi?). Dan babi itu haram! Tidak hanya untuk Muslim, tapi juga bagi Yahudi, sebagian kecil Kristen, dan bahkan orang Hindu pun tidak makan daging babi karena begitu menjijikkan, mengandung beragam sumber penyakit seperti dituliskan oleh kapten Ajit V. 

Kemelekatan lainnya juga terlihat dari perintahnya untuk mengagungkan beberapa tempat terkait dirinya, dengan dogma bahwa siapa yang mengunjunginya, Wow! akan masuk surga. Ini Ananda, empat tempat dimana para Buddhis taat harus mengunjunginya dengan segenap perasaan penghormatan, pengagungan. Tempat kelahiran Buddha, tempat Pencerahan Dirinya, tempat Pemutaran Roda Dhamma, tempat meninggalnya dimana dia mencapai kondisi Nibbana. Dan disana para bhikkhu dan bhikkhuni, orang awam, harus  membayang-bayangkan: Disini Tathagata lahir, disini mengalami pencerahan penuh tanpa bandingan, disini diputar roda dhamma, disini Tathagata meninggal mencapai Nibbana! Siapapun yang mati saat mengunjunginya dengan segenap keyakinan maka akan masuk surga! [DN-e

Maka untuk berbagai kemelekatan tersebut dan hal lainnya, patutlah direnungkan firman Allah Ta'ala ini:

Dan sesungguhnya banyak (orang) yang menyesatkan (orang lain) dengan keinginan hawa nafsunya tanpa dasar pengetahuan. Sungguh Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al- An'aam/ 6: 119)

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya. (QS. An-Naziat/ 79: 40-41).

Dan apa yang dimaksud dengan Buddha mencapai Nibbana tiada lain adalah sebagaimana pendapat Bhikkhu Anuruddha dalam menjelaskan proses kematian (sakaratul maut) Siddharta Buddha Gautama kepada Bhikkhu Ananda, seperti koan ini:
Bhikkhu Ananda yang memperhatikan bahwa Sri Bhagava (Buddha) tidak bernafas, maka ia menjadi cemas dan berkata kepada Bhikkhu Anuruddha: “Sahabat Anuruddha, Sri Bhagava telah meninggal.”
Bhikkhu Anuruddha berkata: “Tidak, sahabat Ananda, Sri Bhagava belum meninggal.” Ia hanya memasuki Padamnya Pencerapan dan Perasaan. Lalu, keluar dari Padamnya Pencerapan dan Perasaan itu, Sri Bhagava memasuki Tataran Bukan Pencerapan Maupun Bukan Tanpa-Pencerapan. Setelah itu Ia memasuki Tataran Tanpa Ada Apa Pun, Tataran Kesadaran Nirbatas, dan Tataran Ruang Nirbatas. Lalu keluar dari Tataran Ruang Nirbatas, Ia memasuki jhana keempat, jhana ketiga, jhana kedua, dan jhana pertama. Kemudian, keluar dari jhana pertama, Ia memasuki jhana kedua, jhana ketiga, dan jhana keempat. Setelah keluar dari jhana keempat, Sri Bhagava mencapai Nibbana Seutuhnya atau Parinibbana. [DN-i
*Jhana = meditasi untuk meraih ketenangan batin.

Itulah Nibbana Buddhisme, yang tiada lain adalah maut, kematian! yang tentu saja segala kebutuhan jasmaniah pun telah tamat! (namun ruh orang kafir dan pelaku maksiat sekiranya bisa ingin dikembalikan ke dunia dari alam kubur/ barzah untuk menjadi Muslim dan beramal lebih banyak lagi). Dan menurut narasi Digha Nikaya berarti Buddha semenjak kematiannya hingga kini sedang berada bersama Mara, si Evil One yang beberapa kali telah mendatangi untuk membawa bersamanya. 

Maka: Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kamu dikembalikan. (QS. Yaasiin/ 36:83).

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan. 29.(QS. Al- 'Ankabuut/ 29: 57).

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, maka mereka akan mendapatkan surga-surga tempat kediaman, sebagai pahala atas apa yang mereka kerjakan. Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir) maka tempat mereka adalah neraka. Setiap kali mereka hendak keluar darinya, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: "Rasakanlah azab neraka yang dahulu kamu dustakan." (QS. As-Sajdah/ 32: 19-20).

Btw, tujuan tertinggi para Buddhis tiada lain adalah seperti yang digambarkan dalam Islam dimana para binatang juga akan dibangkitkan, diqishas sesamanya, dan kemudian semuanya akan berkesudahan, dimusnahkan. Penggambaran ini sangat tepat apalagi didukung adanya dialog Buddha Gautama dengan Vaccha Gotta dimana mencapai Nibbana itu seperti api menjadi padam tak nyala lagi, tiada sisa tinggal abu. Mungkin karena hal ini pula para Buddhis saat meninggal akan dikremasi sehingga tampak mencapai nibanna dimana jasadnya hanya tinggal jadi abu, hh!

Namun para Buddhis adalah manusia, karena itu akan dibangkitkan sebagai manusia. Maka akan dihisab, diperhitungkan, dibedakan antara mukmin/ muslim dan kafir. Dibedakan pula antara kafir musyrikin atau kafir ateis. Dan kafir ateis itu dinilai lebih buruk daripada kafir musyrikin bahkan dengan iblis, karena iblis itu setidaknya mengakui keberadaan Tuhan.

Adapun akhlak yang baik sebagaimana yang diajarkan dalam Buddhisme dan semua agama atau bahkan oleh orang yang tak beragama sekalipun, itu bukan patokan seseorang akan bisa masuk surga. Bila akhlak yang dijadikan patokan oleh Tuhan untuk menentukan pantas tidaknya seseorang masuk surga atau neraka, maka agama tidak diperlukan lagi di muka bumi ini!

Akhlak yang baik harus dilandasi dengan agama/ iman yang benar. Tanpa dilandasi iman yang benar, maka hasilnya adalah kesia-siaan seperti debu beterbangan:
Allah berfirman (yang artinya):

“Barangsiapa yang mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedang dia beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dizalimi sedikitpun.” (QS. An-Nisaa/ 4:125).

“Dan Kami akan perlihatkan segala amal (kebaikan) yang mereka (orang kafir) kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqaan/ 25: 23).

Sifat baik itu adalah fitrah yang diberikan Allah sejak kita didalam kandungan. Fitrah (sifat-sifat baik) adalah kecenderungan manusia untuk berbuat kebaikan, seperti halnya binatang buas diberi Allah kecenderungan untuk bersifat buas walaupun ia berusaha dijinakkan di lingkungan manusia. Hawa nafsu dan pilihan manusia sendiri yang membuat seseorang manusia itu menjadi jahat dan berperilaku buruk.

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):
“Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (lurus) semuanya. Dan sesungguhnya mereka didatangi oleh setan yang menyebabkan mereka tersesat dari agama mereka.” (HR. Muslim).

Allah menganugerahi manusia kesempatan untuk memilih yang baik atau yang buruk sesuai firman Allah:

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (QS. Al-Balad/ 90: 10) “Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (QS. Al-Insaan/ 76: 3)

Kemudian setan dari jenis jin dan manusia (orang lain atau hawa nafsu keinginan dirinya sendiri) menjadikan jalan yang benar terlihat kabur hingga jalan yang benar itu dikira sesat, dan jalan yang sesat dikira benar.

Allah SWT. berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah/ 2: 216:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Dan pada hakekatnya tidak ada seorang pun yang tidak bertuhan. Semua orang itu bertuhan, yaitu Tuhan Sejati atau ilah-ilah palsu selain Allah.

”Sudahkah engkau (Muhammad), melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya? Atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu hanyalah seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat jalannya.” (QS. Al-Furqaan/ 25:43-44).

Dan: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pengasih selaku seorang hamba.” (QS. Maryam/ 19:93).

Sabbe satta sukhita...
Semoga semua makhluk... bisa ber-Tuhan
Sungguh tiada kebahagiaan tanpa ber-Tuhan YME

[Btw, agama dari Nepal dengan ateisme-nya ini tidak sesuai dengan keyakinan asli masyarakat Indonesia yang telah mengakui adanya Tuhan Sang Pencipta sebelum datangnya agama Hindu dan Buddha, juga tidak sesuai dengan rumusan falsafah dasar bangsa Indonesia, Pancasila dan UUD 45, dimana Negara Indonesia berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana dalam pembukaan UUD 45 bahwa Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa maka bangsa Indonesia bisa merdeka!]


2 komentar:

Mubar mengatakan...

buddhism & agaa dalam perspektif islam (atau agama2 gurun). :)
---
Bila agama bisa membedakan antara makhluk/ ciptaan/ alam dengan Sang Pencipta/ Tuhan, maka Buddhisme jauh dari memahami hal ini.

Bila agama menjadikan diri pribadi dan alam semesta raya sebagai salah satu jalan mengenal/ mengetahui Adanya Tuhan, maka Buddhisme memandang alam kehidupan hanya sebatas sebagai tempat kesengsaraan/ samsara.

Bila agama memahami hukum alam sebagai bagian sunatullah/ ketentuan dari Tuhan, maka Buddhisme mendoktrin bahwa alam semesta maupun hukum alam itu terjadi dengan sendirinya, tapi disisi lain berlawanan dengan dogma Buddhisme “ada ini maka ada itu...” alias hukum sebab akibat/ hukum kamma/ hukum karma, yang begitu rumit.

Bila agama melarang keras menyembah patung/ berhala dan memerintahkan untuk hanya menyembah kepada Tuhan sebagai jalan menuju Surga, maka Buddhisme justru memberi perintah untuk menyembah, bersujud, namaskara penuh penghormatan dan pengagungan pada berbagai patung dari pendiri dan para tokoh dari setidaknya tiga level dibawahnya (juga kepada para bhikkhu dan bhikkhuni) dengan harapan besar supaya bisa masuk Surga/ terlahir kembali didalamnya sebagaimana dogma yang diajarkan Buddha Gautama menjelang kematiannya.

Mubar mengatakan...

saya tambahin wawasan jika berkenan menerimanya.
...
agama = tidak kocar-kacir = hukum-hukum yang mengatur manusia agar hidup baik
Dari sisi keyakinan, agama terdiri dari 2 jenis:
1. Theism
2. NonTheism
Benar buddhism masuk dalam nontheism seperti halnya shinto, zen, dan ajaran budiluhur dari jawa.
Jangankan Buddhist. Atheist sejati pun beragama. Tentu bukan agama teisme.