Buddhis, si Ateis Sarat Klenik, Mistik dan Dogmatik


Kalaulah masih bisa disebut sebagai agama, maka agama Buddha adalah satu-satunya agama yang justru tidak mempercayai keberadaan Tuhan. Menjadi satu-satunya agama untuk para ateis, bahkan sebagai jalan menjadi ateis.

Sebuah jalan yang pasti sangat disenangi Iblis karena telah membantunya memalingkan manusia dari Tuhan YME, sebagaimana tekadnya: “... aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raaf/ 7:16-17).

Kalaulah para Buddhis disebut sebagai ateis, maka mereka adalah ateis yang sarat klenik, mistik dan dogmatik. Para ateis pun senang karena sama-sama tak percayai keberadaan Tuhan, meskipun dalam hal ini para Buddhis adalah si ateis yang sarat klenik, mistik dan dogmatik.

Buddhis sarat klenik, mistik dan dogmatik karena begitu banyak hal-hal metafisika yang dipercayai, begitu besar dosis kosmologi alam gaib yang diperbincangkan, yang diyakini jauh melebihi kosmologi alam ghaib para Teis. Misal, kosmologi alam gaib Buddisme: alam surga ada 26 atau 28 tingkatan, dari kamadhatu, rupadhatu dan arupadhatu. Neraka terbagi menjadi 2 alam, hinanaraka/ neraka kecil dan neraka besar/ mahanaraka yang masing-masing terdiri dari 8 tingkat, bahkan ada pula pembagian menjadi neraka panas dan neraka dingin. Ada pula alam peta yaitu alam untuk makhluk yang cacat dengan beragam pembagian sampai 32 jenis, alam hantu dengan beragam kelompoknya, hantu miskin, sedang, kaya raya; hantu ber bermulut obor api, bermulut jarum, berbau busuk; hantu berambut seperti jarum, berkulit tumor, beragam hantu penerima sesaji, penghilang barang, raksasa, ada alam dewa, alam asura.. dsb, bisa dibaca di 1, 2.

Begitu pula para Buddhis senang sekali dengan berbagai  relik, rupang, arca, patung, maupun berbagai sesaji yang dipersembahkan kepada ilah-ilah itu. Tidak lupa juga adanya berbagai sikap penyembahan kepada para ilahnya, ber-namaskara, bersujud bukan kepada Tuhan, tetapi ke patung Buddha, ke Dhamma dan kepada Sangha. Dan tentu semua itu tak lepas dari berbagai aturan dan dogma buatan manusia. Dan begitu besar dogma yang diyakini bahkan sampai percaya ada tanaman padi langsung berbuah nasi di awal terbentuknya bumi, hh! 

Lalu kenapa Buddhis menjadi ateis?
Para Buddhis menjadi ateis diawali dengan tidak adanya pandangan positif terhadap suatu fenomena, bahwa kehidupan adalah kesengsaraan belaka. Dengan pandangan negatifnya menjadikan alasan untuk tidak percaya adanya kehendak/ iradah dan ketentuan/ takdir dari Tuhan, yang bahkan menjadikannya sebagai alasan tidak percaya dengan Adanya Tuhan. Hal ini terlihat jelas dari pendapat yang dianggap berasal dari Siddhartha Buddha Gautama yang tentunya diamini para Buddhis hingga menjadi makhluk-makhluk ateis, misal sbb:
1.       Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan; Mengapa Brahma itu tidak menciptakan secara baik? Bila kekuatannya demikian tak terbatas, mengapa tangannya begitu jarang memberkati? Mengapa dia tidak memberi kebahagiaan semata? Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela? Mengapa memenangkan kepalsuan, sedangkan kebenaran dan keadilan gagal? Saya menganggap Brahma adalah ketidak-adilan, yang membuat dunia yang diatur keliru. [Bhuridatta Jataka, Jataka 543].
2.      Apabila, O para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami penderitaan dan kebahagiaan sebagai hasil atau sebab dari ciptaan Tuhan (Issaranimmanahetu), maka para petapa telanjang ini tentu juga diciptakan oleh satu Tuhan yang jahat/ nakal (Papakena Issara), karena mereka kini mengalami penderitaan yang sangat mengerikan. [Devadaha Sutta, Majjhima Nikaya 101].
3.      Bila ada Sang Maha Kuasa yang dapat mendatangkan bagi setiap mahluk ciptaannya kebahagiaan atau penderitaan, perbuatan baik maupun jahat, maka Yang Maha Kuasa itu diliputi dosa, sedangkan manusia hanya menjalankan perintahnya saja. [Mahabodhi Jataka 528].
4.      Jadi, karena diciptakan oleh seorang Tuhan Yang Maha Tinggi, maka manusia akan menjadi pembunuh, pencuri, penjahat, pembohong, pemfitnah, penghina, pembual, pencemburu, pemarah, pendendam, dan orang yang keras kepala. Oleh sebab itu, bagi mereka yang berpandangan segala sesuatu adalah ciptaan seorang Tuhan, maka mereka tidak akan lagi mempunyai keinginan, ikhtiar ataupun keperluan untuk melakukan suatu perbuatan ataupun untuk menghindar dari perbuatan lain. [Majjhima Nikaya ii, Sutta 101].
5.      Jikalau Tuhan adalah penyebab dari semua yang terjadi, apalah gunanya usaha keras/ pengorbanan manusia? [Asvaghosa, Buddha-carita 9, 53] .

Bila Buddha Gautama banyak melahirkan berbagai doktrin pandangan salah untuk berbagai hal, maka dari lima poin diatas kali ini ia sendiri pun mempunyai pandangan yang salah.
·         Buddha tidak melihat adanya hikmah, maslahat atau kebaikan dibalik apa yang terlihat sebagai hal yang menurutnya sebagai hal yang buruk, tak adil dsb. tersebut. Ia tidak melihatnya sebagai bagian dari ujian kehidupan/ keimanan, sebagai peluang bagi seseorang untuk berbuat kebaikan atas hal buruk yang dialami orang lain, tidak melihatnya sebagai sarana bagi terbentuknya jalinan kasih antar sesama... dsb.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. Al-'Ankabut/ 29: 2).

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (QS. Al-Mulk/ 67: 1-2).

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. Al-Maidaah/ 5: 2).

Dan tentu saja: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah/ 2: 216).

·         Buddha dalam hal ini juga tidak melihat bahwa kebaikan dan keburukan adalah pasangan yang senantiasa ada. Malam dan siang, kanan dan kiri, kaya dan miskin, pria dan wanita, benar dan salah, baik dan jahat, bahagia dan derita, dsb. itu semua adalah pasangan yang senantiasa saling melengkapi, saling mewarnai hingga menciptakan suatu harmoni... dsb.

Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS. Yaasiin/ 36:36).

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS. Al-Anbiyaa/ 21:35).

Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha. (QS. Al Furqaan/ 25: 47).

·         Buddha juga punya pandangan salah bahwa keadilan itu harus sama rata, sama rasa, sekaligus ia telah membatasi atau bahkan tidak memahami arti ke-Mahakuasaan Tuhan dalam menentukan segala sesuatu. Karenanya ia beranggapan bahwa bila Tuhan  memiliki kekuasaan/ kekuatan demikian tak terbatas, mestinya Tuhan hanya menciptakan yang baik-baik saja, memberi kebahagiaan saja, dan bila tak demikian berarti Tuhan itu jahat, bahwa Tuhan berdosa.

Demikian pula para ateis lainnya memang suka berdalih bahwa adanya banyak penderitaan di dunia adalah sebuah bukti bahwa Tuhan tidak ada. Bilapun Tuhan ada, fakta penderitaan menunjukkan bahwa Tuhan itu lemah tanpa daya, atau bahkan menganggap Tuhan itu jahat, hm! Perspektif seperti ini tentu sangat dangkal. Mereka tidak berpikir bahwa penderitaan akan terus ada di dunia ini meskipun seandainya ateisme sudah dianut semua orang di muka bumi dan Tuhan sudah terhapus dari kesadaran dan memori manusia.

Disebut Tuhan Yang Mahakuasa justru karena Tuhan mempunyai Kedaulatan Mutlak dalam menciptakan dan menentukan segala sesuatu, hal yang baik maupun yang terlihat buruk/ jahat, tanpa tergantung pada siapapun atau apapun di luar diri-Nya.

Dia telah menciptakan segala sesuatu dan menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (QS. Al-Furqaan/ 25:2).

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. (QS. Al-Qashash/ 28: 68).

Akulah TUHAN yang membuat damai dan menciptakan malapetaka/ kejahatan. (Bibel, Yesaya 45:7); TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka. (Bibel, Amsal  16:4); Hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya (Bibel, Pengkotbah7:14).

Dan: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah/ 2: 216).

Dan bagi orang-orang yang berpandangan positif mengenai kehidupan dunia ini; tidak menganggap bahwa kehidupan hanyalah kesengsaraan belaka seperti pendapat Buddha, maka akan bisa memahami bahwa: “Jika seandainya Allah menyiksa seluruh penghuni langit dan bumi, maka Allah tidak berbuat zhalim dengan menyiksa mereka. Jikalau Allah merahmati mereka, maka rakhmat-Nya itu benar-benar lebih baik bagi mereka daripada seluruh amal perbuatan mereka.” (HR. Abu Dhawud 4699, Ahmad V/185).

·         Buddha juga tak bisa melihat adanya perbedaan antara Tuhan yang menciptakan semua perbuatan, dengan manusia yang melakukan perbuatan berdasar kehendak bebas yang dimilikinya. Karena tak bisa membedakannya, maka perbuatan manusia dianggap sebagai tanggung jawab Tuhan. Buddha juga tak menempatkan dengan benar bahwa bersandar/ berdalih dengan ketentuan Allah/ takdir itu hanya boleh dilakukan terhadap musibah dan cobaan dengan maksud supaya bisa lebih bersabar. Adapun berdalih dengan takdir atas perbuatan dosa dan kesalahan adalah sama sekali tidak dibenarkan karena Allah telah perintahkan untuk berbuat kebaikan dan telah melarang manusia dari melakukan perbuatan dosa.

Allah menciptakan dan menentukan segala sesuatu sesuai dengan ilmu-Nya. Sesuai apa yang dikehendaki-Nya, dan semua itu rapi tertulis dalam kitab-Nya.  
Dia telah menciptakan segala sesuatu dan menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (QS. Al-Furqaan/ 25:2).

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. (QS. Al-Qashash/ 28: 68).

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). (QS. Al-An’am/ 6: 59).

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. Al-Hadiid/ 57:22).

Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya. (Bibel, Matius 10: 29-30; Lukas 12:6-7);  TUHAN melakukan apa yang dikehendaki-Nya, di langit dan di bumi, di laut dan di segenap samudera raya. (Bibel, Mazmur 135: 6).

Allah Subhanahu wa  Ta’ala juga yang menciptakan semua perbuatan makhluk.
Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu." (QS. Ash Shaaffaat/ 37:96)

Namun manusia secara nyata juga memiliki kehendak dan kemampuan untuk  mengerjakan atau meninggalkan suatu perbuatan. Demikian juga secara dalil naqli, Allah telah berfirman bahwa manusia itu memiliki kehendak.
Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya. (QS. An-Naba/ 78:39).

Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. (QS. Al-Baqarah/ 2: 223).

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (QS. Al-Baqarah/ 2: 286).

Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik. (QS. Al Israa/ 17:19).

Kehendak manusia tunduk pada kehendak Allah yang telah ditentukan baginya/ tunduk pada takdir Allah.
 Sungguh, (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) tentu dia mengambil jalan menuju Tuhannya. Tetapi kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. (QS. Al-Insaan/ 76: 29-30).

Al Qur'an itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam. (QS. At-Takwiir/ 81:27-29).

Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana. (Bibel, Amsal 19:21).

Dengan demikian, seorang Buddhis yang sedang semedhi/ meditasi atau dengan penuh puja-puji bersujud di depan patung Buddha, maka perbuatan tersebut adalah ciptaan Allah, namun si Buddhis itu yang melakukannya dengan sukarela sesuai kehendak dirinya, yang tentu saja sebagai pihak yang harus bertanggung jawab atas segala konsekuensinya.

Perbuatan tersebut juga terjadi atas kehendak Allah, yaitu kehendak yang disebut Iradah kauniyah qadariyah. Suatu kehendak yang bersifat umum, meliputi seluruh peristiwa yang terjadi di jagat ini, entah berupa kebaikan ataupun keburukan, keimanan maupun kekafiran, ketaatan atau kemaksiatan.

Namun perbuatan si Buddhis tersebut tidak sesuai dengan kehendak Iradah syariah, kehendak Allah yang terkait dengan apa yang diperintahkan oleh Allah kepada hamba-hambanya berupa hal yang dicintai dan di ridhai. Suatu kehendak yang bersifat khusus berkaitan dengan apa yang dicintai dan diridhai Allah, berupa perintah dan larangan yang dijelaskan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Jadi perbuatan tersebut dikehendaki Allah dari satu sisi, yaitu dari segi ketentuan/ takdir-Nya. Namun tidak disukai oleh-Nya dari segi dzat perbuatan tersebut karena sebagai perbuatan kemungkaran. Allah menghendaki dari satu sisi, tapi tidak menyukai dari sisi lainnya.

Iradah kauniyah qadariyah dan iradah syariah ini berpadu harmonis dalam diri seseorang yang taat. Ketaatan seseorang itu sesuai dengan iradah/ kehendak Allah, baik Iradah kauniyah qadariyah maupun Iradah syariah. Adapun orang yang sedang bermaksiat dan orang kafir, maka perbuatannya hanya sesuai dengan Iradah kauniyah qadariyah.

Iradah kauniyah qadariyah itu bersifat rahasia, adapun Iradah syariah adalah apa-apa yang ditentukan dalam agama, berupa perintah dan larangan. Karena itu kita harus hidup sesuai kehendak Allah yang dinyatakan, hidup menyesuaikan dengan Iradah syariah, bukan memberatkan diri dalam menyelidiki Iradah kauniyah qadariyah/ takdir.

Biarlah takdir ini menjadi rahasia Allah:
Sebagaimana Nabi Musa ‘alaihissalam berpesan: “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi ALLAH, Tuhan kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya...” (Bibel, Ulangan 29:29).

Dan Imam Abu Jafar ath-Thahawi rahimahullah (wafat th. 321H) berkata: “... Sesungguhnya Allah telah menutup ilmu tentang takdir-Nya agar tidak diketahui oleh makhluk-Nya dan melarang mereka untuk menggapainya, sebagaimana firman-Nya: “Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, dan merekalah yang ditanyai (QS. An-Anbiyaa/21: 23).

Jadi: “Jikalau Tuhan adalah penyebab dari semua yang terjadi, apalah gunanya usaha keras/ pengorbanan manusia? (Asvaghosa, Buddha-carita 9, 53).

Tentu sangat berguna donk Budd! Tuhan memang penyebab segalanya, Dia yang menciptakan makhluk dan perbuatan makhluknya. Segala sesuatu juga tidak lepas dari kehendak dan takdir-Nya. Namun takdir ini bersifat rahasia, karena itu justru manusia yang mesti mewujudkan sampai sejauh mana takdir dirinya, berjalan dari satu takdir ke takdir berikutnya. Karena itulah manusia harus melakukan segenap usaha/ perbuatan, dan karena itu pula manusia pun juga menjadi sebab adanya sesuatu dari hasil perbuatannya, maka nikmatilah hasil usaha kerasnya itu dan jangan lupa bertanggung jawablah atas segala perbuatan yang telah dilakukan. Jadi, usaha keras/ pengorbanan manusia itu sangat berguna bagi diri, keluarga dan orang lain, di dunia dan di akhirat. Tuhan tidak mengubah nasib suatu kaum bila tidak berusaha!

“... Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum hingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri...”  (QS. Ar-Rad/ 13:11).

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah/ 9: 105).

Akhirnya dari berbagai pandangan salah Buddha tersebut menjadikannya menolak adanya ketentuan/ takdir Tuhan, yang sekaligus sebagai jalan baginya untuk menolak Adanya Tuhan. Akibatnya Buddha maupun Buddhis menjadi ateis.

Buddha dan para Buddhis juga menjadi ateis materialistis akibat Buddha Gautama tidak bisa melihat adanya sosok Tuhan. Para penganut materialisme berpendapat bahwa wujud/ keberadaan sesuatu itu sama dengan materi. Sesuatu itu dianggap ada bila ia berupa materi yang meliputi tiga dimensi. Mereka biasanya meminta bukti empirik atas suatu masalah yang sebenarnya tidak bisa dimuarakan kepada (diselesaikan dengan) pembuktian empirik. Suatu hal yang seharusnya menuntut manusia naik ke fase berfikir secara rasionalistik menggunakan karunia akalnya.

Demikian pula karena Buddha, meskipun diyakini para pengikutnya bahwa Buddha punya “mata dewa” punya Abhinna dibbacakkhu, namun tak bisa melihat adanya sosok Tuhan dalam berbagai semedhinya, sehingga ia tak percaya adanya Tuhan. Ia tak mengerti batasan dirinya, tak mengerti bahwa yang tidak kelihatan olehnya bukan berarti tidak ada. Tentu ia pun tak tahu bahwa Tuhan itu memang tak terjangkau dalam pandangan mata selagi di dunia.

Hanya di alam akhirat saja dimana para mukmin akan memperoleh kehormatan bisa memandang wajah Tuhan: “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya mereka memandang.(QS. Al-Qiyamah/ 75:22-23).

Tidaklah mungkin di dunia bisa melihat Tuhan, meskipun bagi para nabi:
Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir[1347] atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana. (QS. Asy-Syura/42:51). [1347]. Di belakang tabir artinya ialah seorang dapat mendengar kalam Ilahi akan tetapi dia tidak dapat melihat-Nya seperti yang terjadi kepada Nabi Musa alaihissalam.

Didunia hanya bisa melihat Tuhan melalui alam yang Dia ciptakan:
Sungguh, pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan dirimu dan pada makhluk bergerak yang bernyawa yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) untuk kaum yang meyakini; dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit, lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berakal. (QS. Al-Jatsiyah/ 45:3-5).


Sabbe satta sukhita...
Semoga semua makhluk... bisa ber-Tuhan
Sungguh tiada arti kebahagiaan tanpa ber-Tuhan YME


Ref:
Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka Imam Syafi’i.
Syarah Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Sa’id Ali bin Wahfi Al-Qahthaniy, At Tibyan
Ulasan Tuntas Tentang Tiga Prisip Pokok:  Siapa Rabbmu,  Apa Agamamu, Siapa Nabimu? Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Darul Haq.

Tidak ada komentar: